UNTITLED

Lee Donghae membuka matanya perlahan, kepalanya berdenyut menyakitkan. Dilihatnya botol botol soju berserakan dibawah tempat tidurnya. Bahkan kemeja dan sepatu mahalnya masih melekat di dirinya. Donghae menghela nafas berat, sudah berapa lama dia hidup seperti ini. Pertanyaan itu seolah menghantamnya untuk kesekian kalinya. Dia menyeret kakinya turun dari tempat tidurnya menuju dapur. Mengambil satu botol soju lagi dari kulkas, sedikit meringis saat cairan pahit itu terasa membakar tenggorokkannya. Dia terus menenggak sampai kesadarannya makin menipis.
Lee Donghae, sekali lagi dia jatuh dengan air mata turun membasahi bekas air matanya semalam. Seiring satu kata meluncur lirih dari sisa kesadarannya.

“Ji-ya~”

Donghae mengerjabkan mata, saat dirasakan tepukan berkali kali dipipi kanannya. Sosok pria berparas jenaka menghela napas lega mendapati mata Donghae mengerjab tanda dia sudah sadar, meski sorot itu masih kosong. Dia adalah Eunhyuk sepupu sekaligus sahabat Donghae.
Dengan hati hati Eunhyuk membantu Donghae berjalan menuju kamar mandi. Sesekali bergumam betapa Eunhyuk lelah harus mengurus pekerjaannya, keluarganya dan ditambah PR baru bernama Lee Donghae.

Setelah beberapa lama, Lee Donghae keluar dan mendapati Eunhyuk sedang berciuman dengan wanita entah siapa. Donghae menepuk kasar belakang kepala Eunhyuk, membuat pria jenaka itu berteriak kesal namun Donghae hanya berlalu masuk kedalam Audi hitam yang terparkir manis didepan istananya. Diikuti Eunhyuk meninggalkan wanita yang tadi dia cumbu.

“If I were Soojung, I’d never accepted your purpose.” Donghae bergumam yang membuat Eunhyuk menatap sinis dibalik kemudi.
“mind yo own bussiness.” Balas Eunhyuk dengan aksen yang dibuat buat dan gaya super bossy berlebihan.
Tak ada obrolan lagi setelah itu, baik Eunhyuk maupun Donghae sibuk dalam lamunan mereka masing masing.
Dan lagi, bayangan wanita itu kembali menghampiri Donghae setiap dia menutup mata. Siluet itu terasa nyata hingga membuat dadanya sesak.

♡♡

Mereka keluar ruangan dalam diam. Sesi panjang bersama psikiater pribadi Donghae berjalan lebih cepat daripada saat pertama kali dulu. Donghae sudah lebih tenang dan menerima keadaannya, dan hasil pemeriksaannya pun mengalami peningkatan.
Ponsel Eunhyuk berdering, ia meminta ijin ke Donghae yang dijawab dengan anggukan singkat.
Donghae berjalan keluar gedung dengan tenang, berdiri disudut mengambil satu batang rokok dan menyalakannya. Dia benar benar merasa kosong, dia memejamkan mata menikmati setiap tarikan napas. “June 20th. Its been a year and 2 months since you left.” gumamnya. Tangan Donghae mengepal kuat, sangat kuat hingga buku buku jarinya memutih.
“hey Donghae, lets go.” suara Eunhyuk mengembalikan kesadaran Donghae, lagi lagi pria jenaka itu menariknya keluar saat dia merasa akan tenggelam. Donghae segera berjalan menuju mobil mereka setelah membuang rokoknya tentu saja.
“should we cancel lunch with mr. CEO DAEHAN GROUP? you need a rest I guess.”
“no. we’ll attend.” jawaban Donghae membuat Eunhyuk kesal. Dia hanya bisa bergumam, tanpa bisa protes karena Donghae adalah bosnya.

“HEY STUPID LEE F*CKING DONGHAE WHERE TF ARE YOU GOING!?” Teriak Eunhyuk panik saat Donghae tiba tiba berlari kencang menuju tangga bawah tanah. “oh this is bad. Just what tf is he thinking he’s doing?” gumamnya sambil berlari mengejar kawannya itu. Dia terus bergumam akan berhenti menjadi sekertaris Lee Donghae setelah ini. Dia sudah tak peduli, lebih baik dia melamar pekerjaan di perusahaan lain daripada harus mengurus bos gila seperti Donghae.

Eunhyuk berhenti saat sosok Donghae terlihat di ujung tangga, oh yaampun apa yang sedang dia lakukan dengan wanita meronta diantara kedua tangannya. “oh shit.” umpat Eunhyuk ketika petugas keamanan stasiun kereta bawah tanah mulai menatap waspada mereka berdua. Dia menatap wanita itu lalu membuat kode ‘cepatlah’ yang dijawab senyuman mengerti oleh wanita itu. Eunhyuk dengan sigap mengalihkan perhatian sang petugas dan berharap semoga mereka cepat menyelesaikan urusan mereka tanpa membuat suasana semakin tak terkendali.

“why did you leave without saying anyword? Ji.” suara Donghae tertahan. Dia merasa ingin meledak oleh semua perasaan yang dia pendam selama ini. Matanya berair, tangannya menggenggam kuat pegangan tangga.
Wanita itu menatap tak tega pria didepannya, dia terlihat semakin kurus dan… sakit. Wanita itu menarik Donghae dalam pelukannya. Menghirup aroma maskulin dari parfum yang Donghae pakai, bercampur samar samar dengan aroma tembakau. Dia agak sedih saat sadar Donghae mulai merokok-Hal yang selalu pria itu benci. Sebanyak apa wanita itu melukai Donghae?

Perlahan Donghae mulai tenang, wanita itu berkata, “did you hear my heartbeat? its not racing for you anymore.” suara rendah itu mengalun lembut namun menyakitkan bagi Donghae. Kenyataan bahwa jantung wanita dipelukannya berdetak normal, membuat sesak itu datang lagi.
“thing that would kill love is ignorance. You’ve killed my feelings with your ignorances.” lanjut wanita itu melepas pelukannya. Donghae merosot, kakinya seolah tak mampu menopang berat tubunya. Seiring dengan kepalanya yang berputar mengingat semua kejadian seperti potongan film lama yang berulang menyakitkan. Betapa wanita itu -Han Jihye- selalu mendukung karir dan ambisi Donghae. Selalu tersenyum saat Donghae tiba tiba membatalkan janjinya karena pertemuan bisnis mendadak. Selalu mendukung sepenuh hati dan menjadi penenang untuknya. Tapi hubungan mereka semakin dingin saat Donghae mulai mendapatkan semua hal yang dia inginkan. Donghae terlihat semakin jauh meski dia berada dipelukannya. Tak ada lagi obrolan obrolan kecil yang selalu mereka lakukan dulu. Usapan, sentuhan, ciuman mereka hilang.

Han Jihye berlutut menghadap Donghae disana. “I left you. So its my fault as well.” Tangannya membelai pipi Donghae mencium perlahan pipi itu untuk yang terakhir kalinya. “Good bye.” Han Jihye berlari pergi meninggalkan Donghae yang masih terpaku disana. Nafasnya naik turun seiring airmatanya jatuh membasahi pipinya lagi, Donghae menangis. Menangis memegang dada yang terasa begitu menghimpit. Menangis seperti orang gila. Menangisi wanitanya yang pergi.

“thing that would kill love is ignorance”

END

*EPILOGUE

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya 2 jam sudah dia berpura pura tertarik mendengarkan cerita sang petugas yang belakangan diketahui seorang pahlawan veteran.
“you seem to be bored young man. Shall I stop my story? Tho I’d glad to tell you more.”
“no sir, please continue.” Eunhyuk mengulas senyum palsu, terlalu memaksa untuk disebut itu sebuah senyuman. Namun sepertinya petugas itu sudah terhanyut oleh euphoria yang dia buat sendiri. “Lee F*cking Donghae, I needa extra bucks for this.” umpat Eunhyuk mengepal dendam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s