UNTITLED

Lee Donghae membuka matanya perlahan, kepalanya berdenyut menyakitkan. Dilihatnya botol botol soju berserakan dibawah tempat tidurnya. Bahkan kemeja dan sepatu mahalnya masih melekat di dirinya. Donghae menghela nafas berat, sudah berapa lama dia hidup seperti ini. Pertanyaan itu seolah menghantamnya untuk kesekian kalinya. Dia menyeret kakinya turun dari tempat tidurnya menuju dapur. Mengambil satu botol soju lagi dari kulkas, sedikit meringis saat cairan pahit itu terasa membakar tenggorokkannya. Dia terus menenggak sampai kesadarannya makin menipis.
Lee Donghae, sekali lagi dia jatuh dengan air mata turun membasahi bekas air matanya semalam. Seiring satu kata meluncur lirih dari sisa kesadarannya.

“Ji-ya~”

Donghae mengerjabkan mata, saat dirasakan tepukan berkali kali dipipi kanannya. Sosok pria berparas jenaka menghela napas lega mendapati mata Donghae mengerjab tanda dia sudah sadar, meski sorot itu masih kosong. Dia adalah Eunhyuk sepupu sekaligus sahabat Donghae.
Dengan hati hati Eunhyuk membantu Donghae berjalan menuju kamar mandi. Sesekali bergumam betapa Eunhyuk lelah harus mengurus pekerjaannya, keluarganya dan ditambah PR baru bernama Lee Donghae.

Setelah beberapa lama, Lee Donghae keluar dan mendapati Eunhyuk sedang berciuman dengan wanita entah siapa. Donghae menepuk kasar belakang kepala Eunhyuk, membuat pria jenaka itu berteriak kesal namun Donghae hanya berlalu masuk kedalam Audi hitam yang terparkir manis didepan istananya. Diikuti Eunhyuk meninggalkan wanita yang tadi dia cumbu.

“If I were Soojung, I’d never accepted your purpose.” Donghae bergumam yang membuat Eunhyuk menatap sinis dibalik kemudi.
“mind yo own bussiness.” Balas Eunhyuk dengan aksen yang dibuat buat dan gaya super bossy berlebihan.
Tak ada obrolan lagi setelah itu, baik Eunhyuk maupun Donghae sibuk dalam lamunan mereka masing masing.
Dan lagi, bayangan wanita itu kembali menghampiri Donghae setiap dia menutup mata. Siluet itu terasa nyata hingga membuat dadanya sesak.

♡♡

Mereka keluar ruangan dalam diam. Sesi panjang bersama psikiater pribadi Donghae berjalan lebih cepat daripada saat pertama kali dulu. Donghae sudah lebih tenang dan menerima keadaannya, dan hasil pemeriksaannya pun mengalami peningkatan.
Ponsel Eunhyuk berdering, ia meminta ijin ke Donghae yang dijawab dengan anggukan singkat.
Donghae berjalan keluar gedung dengan tenang, berdiri disudut mengambil satu batang rokok dan menyalakannya. Dia benar benar merasa kosong, dia memejamkan mata menikmati setiap tarikan napas. “June 20th. Its been a year and 2 months since you left.” gumamnya. Tangan Donghae mengepal kuat, sangat kuat hingga buku buku jarinya memutih.
“hey Donghae, lets go.” suara Eunhyuk mengembalikan kesadaran Donghae, lagi lagi pria jenaka itu menariknya keluar saat dia merasa akan tenggelam. Donghae segera berjalan menuju mobil mereka setelah membuang rokoknya tentu saja.
“should we cancel lunch with mr. CEO DAEHAN GROUP? you need a rest I guess.”
“no. we’ll attend.” jawaban Donghae membuat Eunhyuk kesal. Dia hanya bisa bergumam, tanpa bisa protes karena Donghae adalah bosnya.

“HEY STUPID LEE F*CKING DONGHAE WHERE TF ARE YOU GOING!?” Teriak Eunhyuk panik saat Donghae tiba tiba berlari kencang menuju tangga bawah tanah. “oh this is bad. Just what tf is he thinking he’s doing?” gumamnya sambil berlari mengejar kawannya itu. Dia terus bergumam akan berhenti menjadi sekertaris Lee Donghae setelah ini. Dia sudah tak peduli, lebih baik dia melamar pekerjaan di perusahaan lain daripada harus mengurus bos gila seperti Donghae.

Eunhyuk berhenti saat sosok Donghae terlihat di ujung tangga, oh yaampun apa yang sedang dia lakukan dengan wanita meronta diantara kedua tangannya. “oh shit.” umpat Eunhyuk ketika petugas keamanan stasiun kereta bawah tanah mulai menatap waspada mereka berdua. Dia menatap wanita itu lalu membuat kode ‘cepatlah’ yang dijawab senyuman mengerti oleh wanita itu. Eunhyuk dengan sigap mengalihkan perhatian sang petugas dan berharap semoga mereka cepat menyelesaikan urusan mereka tanpa membuat suasana semakin tak terkendali.

“why did you leave without saying anyword? Ji.” suara Donghae tertahan. Dia merasa ingin meledak oleh semua perasaan yang dia pendam selama ini. Matanya berair, tangannya menggenggam kuat pegangan tangga.
Wanita itu menatap tak tega pria didepannya, dia terlihat semakin kurus dan… sakit. Wanita itu menarik Donghae dalam pelukannya. Menghirup aroma maskulin dari parfum yang Donghae pakai, bercampur samar samar dengan aroma tembakau. Dia agak sedih saat sadar Donghae mulai merokok-Hal yang selalu pria itu benci. Sebanyak apa wanita itu melukai Donghae?

Perlahan Donghae mulai tenang, wanita itu berkata, “did you hear my heartbeat? its not racing for you anymore.” suara rendah itu mengalun lembut namun menyakitkan bagi Donghae. Kenyataan bahwa jantung wanita dipelukannya berdetak normal, membuat sesak itu datang lagi.
“thing that would kill love is ignorance. You’ve killed my feelings with your ignorances.” lanjut wanita itu melepas pelukannya. Donghae merosot, kakinya seolah tak mampu menopang berat tubunya. Seiring dengan kepalanya yang berputar mengingat semua kejadian seperti potongan film lama yang berulang menyakitkan. Betapa wanita itu -Han Jihye- selalu mendukung karir dan ambisi Donghae. Selalu tersenyum saat Donghae tiba tiba membatalkan janjinya karena pertemuan bisnis mendadak. Selalu mendukung sepenuh hati dan menjadi penenang untuknya. Tapi hubungan mereka semakin dingin saat Donghae mulai mendapatkan semua hal yang dia inginkan. Donghae terlihat semakin jauh meski dia berada dipelukannya. Tak ada lagi obrolan obrolan kecil yang selalu mereka lakukan dulu. Usapan, sentuhan, ciuman mereka hilang.

Han Jihye berlutut menghadap Donghae disana. “I left you. So its my fault as well.” Tangannya membelai pipi Donghae mencium perlahan pipi itu untuk yang terakhir kalinya. “Good bye.” Han Jihye berlari pergi meninggalkan Donghae yang masih terpaku disana. Nafasnya naik turun seiring airmatanya jatuh membasahi pipinya lagi, Donghae menangis. Menangis memegang dada yang terasa begitu menghimpit. Menangis seperti orang gila. Menangisi wanitanya yang pergi.

“thing that would kill love is ignorance”

END

*EPILOGUE

Eunhyuk menggigit bibir bawahnya 2 jam sudah dia berpura pura tertarik mendengarkan cerita sang petugas yang belakangan diketahui seorang pahlawan veteran.
“you seem to be bored young man. Shall I stop my story? Tho I’d glad to tell you more.”
“no sir, please continue.” Eunhyuk mengulas senyum palsu, terlalu memaksa untuk disebut itu sebuah senyuman. Namun sepertinya petugas itu sudah terhanyut oleh euphoria yang dia buat sendiri. “Lee F*cking Donghae, I needa extra bucks for this.” umpat Eunhyuk mengepal dendam.

DEVIL

image

Cast:
*introduce new baby Yoo Kihyun of Monsta X as Cho Kihyun

“I want you so bad, oh baby baby please don’t go. Everything, even kneeling before you feels so natural now.”

Kihyun menggigit kukunya gelisah, kakinya bergerak acak dibawah meja. Pikirannya terus memutar kejadian minggu lalu dimana dia melihat kakak laki laki nya -Kyuhyun- yang berlutut memohon kepada seorang wanita di satu gang didekat rumahnya. Seorang kakak yang tangguh yang membesarkannya seorang diri setalah orang tua mereka meninggal, seorang kakak yang sempurna yang selalu jadi panutan. Namun semua sirna karena seorang wanita. Wanita ini. Wanita yang saat ini menatapnya acuh.

“are you serious?.” Jantung Kihyun merosot ke perut, dan dia makin gugup saat suara lembut berintonasi kesal itu mengembalikan kesadaranya. Kihyun menenggak air putih sebelum memulai berbicara.

“I know its crazy, since we only know each others name. But yes I want you so bad, oh baby baby please don’t go. Everything, even kneeling before you feels so natural now.”

Kihyun berlutut, sedikit mengumpat mengapa dari semua gombalan yang dia pelajari dari sang master playboy Wonho, justru gombalan si bodoh Minhyuk yang terucap. Meski begitu dia tetap ingin ini berhasil. Mempermalukan diri sendiri seperti ini tak pernah terpikir olehnya. Dia pikir akan hidup bahagia selamanya dengan Kyuhyun hyung. Dia pikir dia tidak akan jatuh oleh malaikat beraura iblis-dari-neraka-terdalam ini, iblis cantik yang membuat kakak tangguhnya berlutut seperti yang dia lakukan sekarang. Sekarang dia mulai sedikit mengerti situasi kakaknya waktu itu. Wanita ini berbahaya. Namun terlambat untuk mengakhiri ini. Sudah terlanjur basah. Dia menunduk tak berani menatp manik favoritnya itu.

Tepat setelah Kihyun memutuskan akan membunuh wanita itu saat keluar dari gang, dia merasakan nafasnya seolah diambil saat manik tajam itu melirik melewatinya. Dia ingat benar bagaimana iblis itu mempesonanya dengan geraian rambut dark-brown yang melambai saat dia berjalan. Jaket kulit dan sepatu boots yang terlihat mahal, bahkan wangi lily yang memenuhi penciumannya pun semakin membutnya gila. Sejak kejadian itu, Kihyun tak mampu lepas dari sihir iblis itu, hingga membuat Minhyuk -teman sebangkunya- bergidik ngeri melihat Kihyun yang seperti zombie karena beberapa hari tidak tidur.

“aku sudah menjadi penguntit gila seperti yang kau minta. Dan hanya dapat nama dan alamat. Aku berhenti! Jantungku hampir meledak hanya dengan melihat siluetnya. Ini benar benar gila.” Minhyuk mengelus prihatin belakang kepala Kihyun yang terkulai diatas meja sambil sesekali menahan tawa. Sepertinya temannya akan dewasa terlebih dahulu dari pada dirinya.

Wanita itu mengulum senyum, ini terlihat seperti anak kecil melakukan pengakuan dosa dari pada sebuah pernyataan perasaan cinta. Menggemaskan. Sebenarnya dia ingin ini lebih lama tapi dia harus cepat mengakhiri drama picisan ini sebelum lebih banyak lagi pelanggan yang berbisik menatap kearah mereka. Wanita itu memakai kacamata hitamnya lalu menepuk bahu Kihyun meminta berdiri.

“Well, its cute seeing your inocent confess, but yet you’re too cute to me. And I dont like lil brother anyway….” Tubuh Kihyun menegang saat wajah malaikat itu medekat kearahnya. Dia dapat menghirup aroma lily dari sela lehernya. Aroma yang membuat kedua lututnya melemas dan membuat akal sehatnya hilang sebentar lagi.

“…Cho Kihyun.” bisiknya dengan suara paling seksi yang dia punya. Wanita itu tersenyum melihat hasil perbuatannya. Pria kecil ini sangat menggemaskan saat kosong. Sebuah pikiran jahil menghampiri dirinya “how ’bout kisses as award?” dia bertanya iseng pada Kihyun, namun Kihyun masih asik didunianya sendiri. Wanita itu mengecup pelan bibir Kihyun, sampai sebuah deringan diponselnya membuat air mukanya mengeras saat melihat nama dilayar display-nya. Dia pergi dengan tenang keluar dari kafe.

Kihyun tersadar saat bel pintu masuk berbunyi oleh sosok malaikat itu yang berjalan keluar kafe. “what did she said?… how did she..” Kihyun berlari mengejar wanita itu sebelum menghilang jauh. Bagaimana bisa wanita itu tau marganya? Dia bersumpah dia memperkenalkan diri sebagai Hyun bermarga Ki.

♥♥♥END ♥♥♥

KISS SCENE

Cast:

* Han Jihye
* Cho Kyuhyun
* Song Jihyo

Jihye berjalan lesu keluar dari kamar sambil menenteng boneka gurita ungu kesayangannya. Jam dinding di dapur menunjukkan pukul 12 lewat. Ia menoleh dan menemukan Jihyo -teman berbagi apartemen- yang sedang sibuk dengan berbagai buku di ruang tengah. “eonni belum tidur?” tanya Jihye yang sudah mendudukkan dirinya di sofa samping Jihyo. “belum, banyak tugas yang harus diselesaikan. Kau sendiri?” Jihyo masih tampak fokus pada buku di genggamannya, tanpa melirik Jihye yang tampak santai membuka laptop Jihyo tanpa diketahui sang pemilik. “tidak bisa tidur. Sepertinya insomniaku kambuh.” Jihyo menurunkan sedikit kacamatanya lalu memicing curiga. “kaukan tidak punya insomnia. Kau sedang ada masalah?” Jihye hanya menggedikkan bahunya tak peduli lalu menghela nafas panjang.

“bagaimana kabar teukie oppa?”
“yakk Han Jihye jangan mengalihkan pembicaraan! Pacarku itu seratus persen baik baik saja. Kau urus saja Kyuhyun mu itu! Kau ada masalah apa hahh!?” tak ada sahutan yang keluar dari gadis dengan piyama katun bergambar monster cookie itu. Ia malah sibuk menggeser kursor sambil menatap lurus laptop di depannya. Seakan enggan memuaskan rasa penasaran Jihyo, Jihye kini menarik lututnya lalu menempelkan kepalanya.

Jihyo yang kesal segera menggeser laptopnya, sedikit menggerutu kebiasaan gadis yang sudah ia anggap dongsaengnya itu yang seenaknya memakai barang pribadinya. Ekspresinya berubah ketika melihat apa yang ada dilayarnya.

Foto foto ciuman Kyuhyun on his drama musical. Red Alert! ini bukan pertanda baik. Gadis itu membenahi letak kacamata minusnya lalu meraih smartphone-nya.

“padahal selama kami pacaran, dia hanya menggandeng tanganku. Tidak lebih. apalagi melakukan.. Itu.” rancu Jihye merana. Gadis itu enggan menunjukkan wajah frustasinya. “apa sebaiknya kami putus saja?” pertanyaan ringan itu dijawab Jihyo dengan jitakan super yang membuat Jihye mengerang marah dan mengusap kepalanya yang berdenyut. “jangan bicara yang tidak tidak.” Jihyo meletakkan ponselnya lalu kembali tenggelam pada tugas yang sempat terbengkalai tadi, sedangkan Jihye beranjak ke dapur untuk membuat kopi.

“yaa kau tidak berencana mengajakku ber’galau’ ria bersamamu kan?” ujar Jihyo sarkastik saat salah satu gelas kopi yang ditenteng Jihye ditaruh di meja. Jihye hanya meringis kaku dengan tebakan tepat sasaran itu. “tidak! Sebentar lagi tugas ku akan selesai. Dan aku lelah, mau tidur.” tolak Jihyo mengibaskan pulpennya. “yakk Song Jihyo-ssi !! Kau ini tidak setia kawan sekali.” Jihyo cemberut lucu. Berharap sisi kemanusiaan Jihyo muncul.

“jangan merayuku dengan tampang memelasmu yang menjijikan itu. Besok jadwalku mengunjungi teuki tercintaku. Jadi aku ingin terlihat fresh. Nite Ji.” Jihyo meraup semua bukunya lalu mengecup pipi Jihye. Tepat saat itu, bel berbunyi membuat mereka saling melempar pandang. “selesaikan masalahmu secepatnya.” Jihyo berlalu kekamarnya setelah menepuk bahu temannya itu dan tersenyum penuh arti. Jihye tak ambil pusing dengan tingkah aneh Jihyo. Ia meletakkan cangkirnya lalu membukakan pintu tanpa melihat intercom.

Kyuhyun. Pria itu melesat masuk tanpa menunggu ijin dari gadis yang kini bingung dan mengekor dibelakangnya. “kenapa tidak mengangkat telfonku?” tanya pria itu langsung. Mereka kini berada di ruang tengah, tepat di tempat Jihyo dan Jihye tadi mengobrol. “ponselku hilang.” jawab gadis itu datar. “bagaimana bisa hilang!??” Jihye melipat tangannya sambil melempar ekspresi tak terimanya. “apa itu penting ?! kau kesini hanya untuk menanyakan ponselku?!?” nafas Jihye naik turun mengatur emosinya. Dia beranjak pergi namun lengan kurusnya ditarik kembali oleh Kyuhyun. “kau tau bukan itu maksudku.” Jihye mengibaskan lengannya, menatap gusar pria itu. “lalu apa maumu?”

“kau marah karena kiss scene itu?” Jihye tidak menjawab dan lebih memilih menghindari kontak mata dengan Kyuhyun. “kita bahkan belum pernah melakukannya selama 7 bulan pacaran.” gumam gadis itu pelan namun masih jelas didengar pria jangkung itu.

Tanpa aba aba Kyuhyun menarik pinggang ramping Jihye lalu meraup bibir pink tipis gadis itu. Membuat Jihye lupa menutup matanya karena terlalu kaget. Kyuhyun terus menekan punggung Jihye, membuat gadis itu tak bisa lepas dari jeratannya.

Tangan Jihye melingkar dileher panjang pria itu. Dia sudah mulai mengimbangi permainan. Tapi Kyuhyun dengan seenaknya mendorong pinggang Jihye dan melepas tautan mereka. Membuat gadis itu cemberut kesal. “payah!” gerutu Jihye melihat Kyuhyun gelagapan mengambil nafas. “kau tau sendirikan kalau hidungku tidak berfungsi dengan baik.” Kyuhyun meneguk air digelas yang ada di atas meja. Membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Pria itu mengambil waktu mengatur detak jantung dan rona merah diwajahnya, agak malu mengingat itu adalah pertama kalinya ia merasakan bibir Jihye.

Kyuhyun meringis kesakitan memegangi perutnya. “akhh” dia mengerang semakin keras membuat Jihye panik. “wae geurae?” Kyuhyun terjatuh meringkuk dengan wajah pucat dan berkeringat dingin. “perut ku! Akhhh..” Jihye bertambah panik mengangkat badan besar Kyuhyun sekuatnya.

Dengan tertatih, gadis itu membawa Kyuhyun berbaring di ranjangnya. “kau seharian makan apa?” tanya Jihye kalut, dia membuka topi dan melebarkan jaket pria itu. “aku belum makan seharian ini. Akhh” Kyuhyun kembali mengerang wajahnya pun makin pucat. “kau minum kopi setelah seharian perutmu kosong?!. Kau mau mati?!” gadis itu mengambil guling lalu menaruhnya dipunggung pria itu. Kyuhyun hanya bergumam membela dirinya. “chakkaman, aku akan ke apotek membeli obat dan mungkin beberapa sandwich kau disini saja. Aku tak kan lama.” runtut Jihye tanpa jeda. Sebuah kebiasaan yang Kyuhyun tau ketika gadisnya itu cemas berlebihan. Sedetik kemudian Kyuhyun mendengar gedoran keras sepeninggal Jihye. Senyum lemah terukir diwajah pucatnya ketika samar samar ia mendengar suara gadis itu memekik sedemikian rupa.

Jihye menggedor panik pintu kamar Jihyo. Dengan nyawa yang belum terkumpul sempurna, wajah mengantuk Jihyo muncul dibalik pintu. “eonni jebal jaga Kyuhyun sebentar eo, aku mau ke apotek. Kyuhyun sedang sakit. Bye~” belum sempat Jihyo mencerna sepenuhnya, gadis aneh itu melesat pergi tanpa sempat memakai mantel atau mengganti sandal rumahnya.

Jihyo berjalan sempoyongan sambil menguap dan menggaruk kepalanya menuju kamar Jihye. “gwenchana?” tanya Jihyo bersender disamping pintu dengan mata setengah terpejam. “neh. Gomawoyo nuna tadi menelfonku.” lirih Kyuhyun. “gadis menyusahkan itu sangat menyukaimu, kau tau? Dia bahkan tidak memakai mantel saat keluar tadi.” Kyuhyun hanya diam tak menjawab. Jihyo menguap lagi, Gadis itu terlihat sangat lelah membuat Kyuhyun tak enak hati merepotkannya.

“nuna berantakan sekali. Sebaiknya nuna istirahat saja. Aku tidak apa apa.” ejek Kyuhyun. “terserah apa katamu, yang penting teuki oppa mau denganku. Panggil aku jika butuh sesuatu. Gadis itu..”
“arraseo nuna~” potong Kyuhyun cepat. Jihyo berjalan sempoyongan kembali kekamarnya.

Perut Kyuhyun sudah tidak sesakit tadi. Mungkin karena guling yang menyangga punggungnya. Pria itu menoleh ketika Jihye hampir terpeleset saat menghampirinya. Membuat jantung Kyuhyun terhenti sejenak. “yakk hati hati.” dengus Kyuhyun kesal.

Jihye membantu Kyuhyun duduk lalu mengeluarkan sandwich dan obat maag lalu menyuapkan ke pria itu. Tiga sandwich sudah lenyap dalam waktu singkat. Jihye mendesah lega, Kyuhyun sudah tidak sepucat tadi. Gadis itu membantu Kyuhyun minum air mineral yang tadi dibelinya.

“bagaimana rasanya?” tanya Jihye yang duduk di pinggir ranjang disamping Kyuhyun. Pria itu menyamankan posisi berbaringnya. Lalu tersenyum menenangkan. “sudah tidak sakit lagi. Gomawo~” jawabnya merujuk dibagian perutnya. “bukan itu. Bagaimana rasanya mencium kakak temanmu?” Kyuhyun mengernyit heran. “yakk!!” Kyuhyun memekik tak percaya ketika mata gadis itu bahkan berbinar saat mengatakannya. “lampunya gelap, jadi aku tidak terlalu jelas melihatnya. Tapi komentar di SNS bilang kau melakukannya dengan baik.”

“ani.. Anhae!” tukasnya memejamkan matanya jengah. “ahh benar. Kaukan bukan pencium handal…” gumam Jihye meremehkan. “..akan sangat memalukan jika pemeran prianya gelagapan kehabisan oksigen setelah ciuman.” lanjut gadis itu. “sudah ayo tidur.” Kyuhyun menarik tangan Jihye agar berbaring disampingnya. Gadis itu tentu saja sangat senang. Dia bahkan melompat melewati pria itu.

“apa manager oppa tidak akan marah, kau menginap disini?” Jihye mendongak dipelukan Kyuhyun. “its okay.” Jihye tersenyum semakin mendekatkan badannya.

“eo! Sepertinya itu ponselku.” Jihye melihat ponselnya yang tergeletak di sudut ruang tepat disamping pintu kamar. “bagaimana bisa disitu?” gumam Kyuhyun mengikuti arah pandang Jihye. “entah. Sepertinya aku lempar untuk mengusir kucing yang dibawa Jihyo eonni tadi pagi.” Kyuhyun mengerjab tak percaya kelakuan ajaib pacarnya ini.”sudahlah ayo tidur. Aku mengantuk.”

~FIN~

CLOUD(ed)

Donghae kembali menghela nafas, tubuh atletisnya yang terbalut jaket olah raga berwarna merah ia sandarkan pada punggung kursi lalu meluruskan kakinya.

“ahh~ sayang sekali langit sedang mendung.” gumamnya sambil melirik gadis disampingnya yang memakai hoodie lengan panjang bergambar monster cookie dan hot pants hitam yang melekat sempurna menutupi 1/3 pahanya.

Gadis itu tak bereaksi sama sekali. Ia malah sibuk memandangi langit malam kota Seoul yang tertutupi mendung dari tempatnya duduk di atap gedung saat ini. Sesekali rambut cokelat keemasannya melambai ketika angin menerpa melewatinya. Membuat Donghae lupa mengatupkan mulutnya melihat pemandangan menakjubkan dari gadis yang dipacarinya sebulan lalu.

Donghae membenahi letak topi hitamnya lalu berdehem sebentar dan merubah ekspresinya tadi, berusaha untuk tidak menunjukkan sisi ‘polos’nya. Biar bagaimanapun ia ingin dianggap sebagai pria jantan. “apa musim favoritmu Ji~ya?” suara Donghae berusaha terdengar biasa saja. Ia sudah memegang kendali dirinya lagi, dan dia tersenyum bangga akan hal itu.

“aku tidak suka semua musim.” jawab gadis itu datar. “wae?” tanya Donghae mengerutkan kening. Bingung. “karena saat musim panas udaranya kering. Saat musim dingin udaranya terlalu dingin. Saat musim semi emm.. Aku suka musim semi tapi aku alergi serbuk bunga, itu membuatku harus memakai masker sepanjang musim. Dan aku benci itu. Dan terakhir aku benci musim gugur karena aku tidak suka warna coklat.” Donghae menganga tak percaya atas berbagai alasan tak masuk akal yang tadi keluar dari bibir mungil pacarnya.

Benci musim gugur karena tidak suka warna coklat?? Oh ayolah.. Does it make any sense?? Tapi setidaknya pria itu tau alasan dulu saat masa berteman dengan gadis itu, ia selalu memakai masker sepanjang musim semi. Donghae pikir gadis itu sedang flu. Dia tak pernah bertanya karena dulu ia sangat canggung. Walau sekarangpun masih, namun sedikit berkurang karena status mereka saat ini.

“kenapa tiba tiba bertanya seperti itu?” gadis itu menyangga dagunya dengan siku yang bertumpu di atas meja di antara mereka. Donghae hampir tersedak dengan tingkah gadisnya tersebut. Pria itu terbatuk salah tingkah lalu menegakkan posisi duduknya. “a-aniyo.. Geu-geunyang..” jawab donghae gugup. Ia menggigit bibirnya merutuki kebodohannya yang tak terkontrol.

Gadis itu tersenyum tipis melihat kegugupan Donghae yang terlihat menggemaskan. Bukannya sadar, Donghae kini malah semakin terjerumus dalam imajinasi berlebihan. Ia seakan melihat rambut Jihye yang melambai lembut diiringi senyum tipis yang terlihat jelas dari samping dalam gerakan slow motion yang membuat jantungnya berdetak kencang.

“maldo andwae.” gumam Donghae masih belum sepenuhnya sadar. Bibirnya bergerak sendiri saat dia berkata tadi. Jihye mendongak serentak, ternyata saat Donghae sibuk dengan imajinasi supernya, gadis itu mencoba mencuri tidur sejenak. Maklum saja ini sudah melewati jam tidurnya. Dan gadis pengantuk itu tidak bisa melawan keinginannya untuk memejamkan mata.

“aku juga benci hujan. Aku tidak suka basah.” Donghae hampir melayangkan protes, namun tak satu pun kata keluar. Akhirnya pria itu hanya memajukan bibirnya kesal.

Jihye berdiri merentangkan tangannya. Sedikit menikmati pergerakan udara disekitarnya. “tapi mendung juga tak buruk. Dia memberiku ketenangan. akhh.. Sebentar lagi akan hujan.” gumamnya lalu meraih ransel besar di kursi. “Ka?” tanya Donghae melihat gadis itu berlalu sambil menenteng ranselnya. “heyy kau tidak lupa bawa payungkan?!?” teriak Donghae yang tertelan udara karena Jihye tak mendengar apapun dan meneruskan langkahnya.

Donghae kembali menatap langit sepeninggal Jihye. Pikirannya mengenang kembali bagaimana ia pertama bertemu dengan gadisnya itu. Perkenalan melalui Heechul -hyung kesayangannya- yang merupakan sepupu jauh gadis itu, di sebuah Cafe langganan mereka.

Donghae yang percaya ‘love at first sight’ langsung percaya bahwa Jihye adalah ‘destiny’nya yang dipertemukan oleh takdir. Berbeda dengan Jihye yang menganggap cinta butuh waktu. Dan itu yang membuat Donghae kesal karena Jihye terkesan tarik-ulur atas perasaannya.

Terhitung satu tahun pria itu mendekati Jihye, bukan perkara mudah menaklukkan hati gadis itu. Tapi semua sepadan.

Pria itu tersenyum ketika ingatannya berhenti di saat pertama kali mereka -heechul, donghae dan gadis itu- liburan ke jeju. Betapa cerobohnya gadis itu meninggalkan villa dengan pan masih berada dikompor yang menyala. Beruntung ketika itu dompet Donghae tertinggal, jadi Donghae kembali ke villa.

Dan rencana menghabiskan hari di pantai terpaksa dibatalkan karena mereka harus membersihkan dapur villa yang terbakar. Sedikit penyesalan ia tak bisa melihat Jihye memakai bikini sexy.

“ommo!” pekiknya tanpa sadar menepuk pipinya yang memerah. Setetes air jatuh diatas hidungnya. Ia menengadahkan kepalanya seiring rintikan gerimis beruntun menjadi hujan. Dengan segera Donghae merogoh jaketnya meraih payung lipat lalu membukanya.

Donghae berjalan perlahan untuk pulang. Sepertinya ia harus pulang tanpa sepeda hitam kesayangannya. Sudut matanya menangkap seorang gadis yang berteduh dibawah terpal dipinggir sebuah gudang. Jihye. Gadis itu tengah memeluk dirinya sambil sedikit berjengkit menghindari tetesan air yang mengarah padanya.

“kenapa masih disini?” Donghae menghampiri gadis itu. Jihye mendongak kaget mendapati Donghae masih disini, sedikit bersyukur pria itu menemukannya sebelum dia basah kuyup.

“tadinya ingin pulang setelah menerbangkan lampion, tapi hujan turun terlalu cepat.” ujar Jihye yang membuat Donghae mengernyit heran dengan pikiran aneh gadis itu.

“tak bawa payung?” Jihye hanya menggeleng lemah atas pertanyaan pria itu. “yakk kau membawa lampion tapi tak membawa payung?! Memangnya apa isi tas mu itu?” pekik Donghae. “selimut, bantal dan lampion.” jawab gadis itu polos yang membuat Donghae kehabisan kata kata. Ia memijit keningnya tak percaya, gadis itu baru saja menjawab pertanyaan yang seharusnya adalah pernyataan. Donghae menarik pergelangan gadis itu agar mau pulang dengan berbagi payung bersamanya. “wae?!” tanyanya jengah saat gadis itu enggan melangkah dan menahan dirinya disana. “aku benci basah.” Donghae menghela nafas kasar. Ia menyerahkan payungnya pada gadis itu lalu melepas jaketnya dan dipakaikan pada Jihye. Setelah memastikan jaket itu menutupi tubuh dan kepala Jihye, Donghae segera berjongkok membelakangi gadis itu. Jihye yang mengerti maksudnya segera menaiki punggung lebar Donghae dengan senyum yang tak kalah lebar. Tangan kurusnya melingkar sempurna memeluk leher kekar pria itu. Dan tangan yang satunya memegang badan payung agar terlindung dari hujan yang makin deras.

Mereka akhirnya memutuskan menerjang hujan malam itu. Donghae tak mau mendengar omelan panjang lebar manajer hyung jika ia terlambat latihan. Lagipula ini sudah terlalu larut, ia takut Jihye kurang istirahat. Gedung yang super luas ini membuat mereka harus menghabiskan beberapa puluh menit mengingat jarak dari tempat mereka duduk kearah pintu keluar terlampau jauh.

“untuk apa kau membawa bantal dan selimut? Juga lampion?..”

“aku berencana pergi ke Busan lalu tidur sambil melihat bintang diatas mobil pick-up.”

“..kau mau pergi bersama? Pasti akan menyenangkan.” lanjut gadis itu mengeratkan pelukannya yang membuat Donghae tersenyum tipis. Pria itu bergumam ketika Jihye memanggil namanya. “kenapa suka hujan?”

“karena suasananya romantis.” jawab pria itu singkat yang langsung dibenarkan oleh Jihye. “tapi aku benci basah, bisakah hujan tidak mengandung air? Mungkin aku juga akan menyukainya.”

“yakk mana ada hujan yang tidak mengandung air!! Kau mau hujan batu, hujan abu, dan hujan es!”

“apa semua hujan yang kau sebutkan itu romantis?” Donghae enggan menanggapi pertanyaan bodoh gadisnya itu. Dia bergumam ‘gadis gila’ berulang kali.

~FIN~

5 RANDOM DRABBLES

ICE CREAM SHOP

JiHye melangkah pelan turun dari bus yang membawanya. Ahh 9 tahun sudah ia terpisah dari kota kelahirannya -SEOUL- yang sedikit.. Mendung. Cuaca favoritnya.
Ia menarik nafas sejenak lalu mulai melangkah kembali.

Langkah ringannya terhenti di depan sebuah kedai, kedai ice cream tepatnya. Dengan senyum tipis terbingkai indah diwajahnya, ia melangkah masuk menyusuri setiap sudut kedai itu. Ia kembali tersenyum ketika penjaga menyapanya ramah. Wanita pemilik kedai dengan senyum yang tak pernah berubah ketika ia pertama kemari.

Semuanya masih sama. Tak ada yang berubah. Desain, tempat duduk, menu, dan.. Suasana. Menyenangkan. Seperti dulu.

Perhatiannya teralih pada dua anak kecil yang berteduh -dari hujan yang entah kapan turun- didepan kedai.

Anak laki-laki kecil itu sibuk menarik kuncir anak perempuan untuk segera pergi dari tempat itu, sedangkan si gadis bersikeras ingin mengajak anak laki-laki itu masuk untuk mendapat beberapa scoup ice cream.

Pertengkaran itu selesai karena si anak lelaki tiba tiba mencium bibir gadis kecil itu dan akhirnya karena malu, ia berlari menembus derasnya hujan. Disusul gadis kecil itu berlari di belakangnya. Sepertinya gadis kecil itu masih terlalu polos untuk mengerti arti ‘ciuman’.

“hei, kau Han Jihye?” tanya seorang pria jangkung yang tiba tiba sudah ada didepannya.

“ohh hei, Cho.. It has been a while.” jawabnya gugup.

Mereka berbincang sebentar. Suasana canggung sangat kental terasa.

“apa yang membuat mu tersenyum geli tadi?” tanya pria itu menyendok ice cream vanilla pesanannya. “hanya mengenang masa pertama kita kesini Cho.”

~kkeut~

DATE

Donghae menyandarkan kepalanya kepangkuan JiHye, ia menutup mata menikmati tiap hembusan angin menerpa lembut wajahnya. “Hae~ya kenapa kau tiba tiba ingin piknik?” tanya JiHye masih sibuk dengan game di ponselnya.

Donghae hanya bergerak perlahan, melipat kedua lengannya diatas dada menyamankan posisinya. “hanya ingin mengajakmu ke tempat yang indah. Kau kan suka bunga.” ujarnya singkat. Angin berhembus lagi, menerbangkan serbuk sari dari bunga bunga yang sedang bermekaran disekeliling mereka.

“Aneh. Tidak biasanya kita kencan seperti ini. Kau lebih suka menghabiskan waktu di apartemen melakukan ‘itu’ seharian.” gadis itu menjeda kalimatnya karena hampir saja pacman-nya tertabrak setan. “kau tidak berniat meninggalkan ku setelah ini kan? Seperti yang Geum Jandi lakukan.” Donghae mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan aneh dari Gadisnya yang aneh.
“apa yang akan terjadi jika aku melakukan itu?”

“aku akan berakhir sama seperti JunPyo.” mau tak mau donghae tersenyum tipis dengan jawaban ringan gadis itu.

“lalu apa yang kau lakukan jika aku meninggalkanmu?” donghae terlihat berpikir sejenak.

“mencari gadis yang lebih seksi darimu.”

“baguslah. Jangan menurunkan standart mu. Aku akan tersinggung jika kau mendapat gadis jelek setelah aku.” jihye melempar ponselnya kesal. “aisshh game ini menyebalkan!! Hae~ya tidakkah ini aneh? Kenapa kita membicarakan perpisahan saat kencan?”

Donghae mengangkat telunjuk dan jari tengah lalu menggerakkannya mengisyaratkan JiHye mendekat. JiHye mencondongkan tubuhnya sedikit ragu.

“aku tak akan pernah meninggalkanmu, gadis aneh.” bisik donghae lalu mendongak dan detik berikutnya bibir tipisnya sudah bergerak lembut diatas bibir jihye.

~kkeut~

YOUR XX

Tangisan merana JiHye membuat siwon menghela nafas malas, dimarahipun rasanya percuma. Dalam keadaan normal saja gadis ini tak mau dengar, bagaimana saat ini..

“kenapa dia selingkuh dibelakangku Siwon~ah? Kenapa dia tega sekali padaku?” rancunya berlebihan. Sedangkan siwon 100% mengacuhkannya.

“lalu kau mau dia selingkuh terang terangan didepanmu? aku kan sudah pernah memberitahu mu, tapi Han JiHye tak pernah mau dengar.” ujarnya malas sambil membaca New York Times dan menyesap kopi panasnya. Paginya yang indah terganggu dengan kedatangan JiHye yang berurai airmata.

“harusnya kau memaksaku mempercayaimu! Kau ini sahabatku bukan sih?!” sembur JiHye pada Siwon yang sengaja menulikan telinganya.

Gadis itu menggebrak meja dan bangkit menghapus kasar airmatanya. Siwon melirik sebentar lalu menyesap kopinya lagi.

“baiklah kau berakhir Lee Hyuk Jae!!” ujarnya mantap lalu mengeluarkan ponselnya, menelfon seseorang.

“Siwon~ah, aku pergi dulu. Donghae oppa mengajakku pergi.” JiHye mengecup singkat pipi sahabatnya itu dan berlalu pergi keluar dari apartemen Siwon.

“ck, sampai kapan kau akan selalu terjatuh pada pria brengsek Ji~ya. Donghae sama brengseknya dengan Hyuk Jae.” ujarnya pada udara kosong.

“…dan sampai kapan kau akan menyadari perasaan tulusku padamu?” gumamnya patah hati.

~kkeut~

GOMAWO, SARANGHAE

Suara decitan pintu terbuka tak membuat sesosok pria yang masih bergelung dengan selimut tebalnya terbangun. Dengan langkah pelan Jihye masuk lalu menaruh nampan berisi dua buah muffin hangat dan secangkir teh panas ke atas nakas.

Gadis itu duduk dipinggir ranjang lalu jemarinya yang panjang menyentuh tiap inchi wajah pria paling istimewa dihidupnya. Ia mencondongkan wajahnya lalu tersenyum miring.

“JUNGSOO CEPAT BANGUN!!” teriaknya tepat diwajah pria yang seketika itu tersentak kaget. Bukannya bangun, pria itu malah berbalik memunggunginya. Dengan sigap JiHye memeluk tubuh yang dililit selimut itu dari belakang.

“kalau kau tak mau bangun sekarang, aku akan menciummu hingga kau kehabisan nafas.” bisik jihye yang hanya dibalas dengusan putus asa Jungsoo. He’s totally awake.

JiHye masih memeluk JungSoo dari belakang menikmati nyamannya gulungan selimut tebal dengan JungSoo didalamnya. “something goes wrong? Leeteuk?” tanya JiHye disertai kekehan geli. JiHye tak pernah terbiasa dengan nama panggung pria itu. Sangat aneh menurutnya.

JungSoo menggeleng, untung kepalanya tak tertutup selimut jadi JiHye dapat melihatnya menggeleng. “ani. Hanya lelah.” JiHye berguling cepat melewati tubuh jungsoo lalu menghadapnya.

“wae geurae?? Apa magnae kurang ajar itu membuat ulah lagi??” tanyanya beruntun tanpa menutupi rasa khawatirnya.

“aniya, dia berlaku baik. Sangaaat baik sampai aku ngeri sendiri.” JiHye mendesah lega.

“lalu apa yang membuatmu lelah teuki oppa? Kau mau aku membantu mu?” goda JiHye menangkup wajah pria itu. “kita selingkuh saja dibelakang mereka, kau terlihat bahagia saat bersamaku.” pria itu terkekeh geli lalu beranjak turun dari ranjang. “oppa masih mencintai JiHyo, juga oppa tak mau merusak hubungan yang sudah membaik dengan magnae busuk itu.” ujarnya menunjuk lurus ke arah JiHye yang cemberut kesal. Semenit kemudian, oppa tiri gadis itu sudah lenyap di balik pintu kamar mandi.

Jihye memandang kosong pintu yang sudah tertutup itu. Dengan hati yang masih berdebar, ia mengambil ponselnya menelfon seseorang.

“kyuhyun~ah aku butuh terapi lagi.”

~kkeut~

HEART BEAT

“Pagi!!” suara baritone Yesung membuat JiHye mengerang kecil. Decitan ranjangnya, membuatnya membuka sebelah matanya. Seorang pria tampan duduk disampingnya kini tengah menatapnya clueless.

“Wae?” tanyanya dengan suara sedikit serak. Kedua mata kembali mentup sempurna. Ada jeda lama sebelum pria itu berujar.

“can you feel my heart beat?” tanyanya dengan suara rendahnya yang merdu, membuat gadis itu mengernyitkan dahinya. “jantung ku berdebar kencang, bahkan hanya dengan menatapmu. Mungkinkah aku menyukaimu?” JiHye makin bingung, ia menepuk samping ranjangnya. Mengisyaratkan pria itu untuk tidur disampingnya, dengan mata setengah terpejam ia tersenyum mendapati tunangannya itu menuruti perintahnya.

“apakah jantung mu berdebar saat aku melakukan ini?” ujarnya mengecup pipi pria itu. “bagaimana kalau ini?” gadis itu bergerak lagi mencium bibir tipis pria itu agak lama.

JiHye melepas panggutannya lalu menatap pria yang membeku itu geli. Sedangkan Yesung masih saja mengumpulkan kesadarannya yang tiba tiba menguap begitu saja, juga mengatur detak jantungnya yang kian menggila oleh senyuman memabukkan gadisnya.

“aku ingin mendengarnya lebih jelas.” katanya beringsut memeluk pinggang Yesung. Kepalanya ia tempelkan tepat didada pria itu, hingga ia dapat mendengar detakan itu lebih jelas dan terasa lebih cepat. Yesung menegang dan sempat ragu, namun akhirnya ia balas memeluk JiHye. “indah.” gumam gadis itu. Yesung menghela nafas panjang.

‘jantungku selalu berdebar tak normal jika didekatmu Ji~’ -Yesung-

~Kkeut~

*bonus [Special scene Ji-Hae]

Jihye menatap sinis laptop didepannya, seakan bisa menghancurkan benda itu lewat tatapan laser yang ia pinjam dari teman lamanya -Clark Cain-

“yak!! Kau hang out lagi dengan Amber?!” makinya pada Donghae yang sibuk dengan Ipod touchnya. Pria itu hanya melirik malas karena kedua telinganya tersumpal headset yang sedang memutar lagu kesukaannya.

Ia akhirnya mengerti tatapan membunuh gadis itu saat ia melihat layar laptopnya berisi Foto dirinya bersama amber f(x) yang ia unggah di twitter beberapa hari yang lalu. “dia hanya hoobae.” ujarnya seadanya.

“hoobae?! Sudah berapa kali kuperingatkan kau untuk tidak tebar pesona amis mu ke hoobae hoobae centil disana?!” sungut JiHye menendang kaki Donghae di ujung futcha mereka.

“jangan bilang kau cemburu padanya.”

“cih, aku tidak melakukan hal rendahan seperti itu. Yakk kau merangkulnya ?!!” Donghae hanya menggedikkan bahunya cuek. “aishh kalau begini, lebih baik kau pacaran saja dengannya.” sedetik kemudian amarah Jihye menguap tergantikan nafasnya yang tercekat karena tiba tiba Donghae menindih badannya. Ide jail terlintas di otaknya.

“kau lupa? Dia memang pacarku. Caraku merangkulnya bukankah penuh cinta? Kau tak punya hak cemburu ‘selingkuhan’ !” Donghae menekan kata terakhirnya, dengan smirk usil menghias wajah tampannya. JiHye yang tadi masih syok, kini menendang pria itu hingga jatuh meringkuk ke lantai. Tentu saja hal itu membuatnya menjerit tak terima.

Jihye melipat laptopnya lalu menyimpannya kedalam ransel. “yakk eodiga?” jerit Donghae ketika gadis itu berjalan cuek melangkahinya yang masih meringkuk memegangi lutut.

“pergi menemui Hyuk Jae.” Donghae melotot tak percaya mendengar ucapan ringan gadis itu. “Kira kira style apa yang dia pilih musim panas ini ya, umm mungkinkah kaus sleveeless sexy yang memamerkan otot lengannya.” gumam JiHye agak keras. Akhirnya gadis itu tau cara membalas Donghae. Smirk tipis keluar begitu saja melihat reaksi Donghae yang makin uring uringan.

“kalau kau menyukainya, pacaran saja dengannya!” Donghae segera mengatupkan bibirnya menyadari ia sudah terjebak permainan gadis itu. Smirk gadis itu makin panjang ketika dia berbalik menatap Donghae.

“dia memang pacarku. Berhenti cemburu ‘selingkuhan’.” ujarnya menirukan ucapan Donghae tadi. JiHye berjalan kembali, tawanya makin lebar kala Donghae mengerang makin frustasi.

“hei kajima! Lee JiHye aku akan menceraikanmu jika kau tetap pergi!” jerit donghae putus asa. “jangan mengganti margaku dengan marga Hyuk Jae, membuatku semakin ingin menemuinya.” balas JiHye cepat.

“yakk Han JiHye!! itu margaku!” donghae merutuki kecerobohannya yang terlalu gampang berkata cerai ke istrinya itu tadi. Ia segera berdiri menyambar kunci mobilnya lalu mengejar istri yang disayanginya itu sebelum dia naik bus dan kehilangan jejaknya. Minta maaf dan mendapat beberapa kecupan dibibirnya mungkin cukup untuk melewati hari ini yang akan melelahkan karena jadwal yang semakin padat. Belum lagi menghadapi sikap dingin yang akan ia terima karena dua kecerobohannya tadi.

[Special Scene Ji-Hae] ~END~

mwo…???

setelah muter muter ga jelas dan lelah, penat, suntuk ngumpul akhirnya bisa ngepost juga. Yahh walopun post nya ga penting pake bangeudddth =.= so ladies and gentlemen welcome to my venus i couldnt promise anything, i’ll write when i want to… And forever SUJU IS IN MY HEART , love the so much!!! *hug oppadeul

Thats all what i wanna say happy scrolling(?) here

From venus with love~~:)