CLOUD(ed)

Donghae kembali menghela nafas, tubuh atletisnya yang terbalut jaket olah raga berwarna merah ia sandarkan pada punggung kursi lalu meluruskan kakinya.

“ahh~ sayang sekali langit sedang mendung.” gumamnya sambil melirik gadis disampingnya yang memakai hoodie lengan panjang bergambar monster cookie dan hot pants hitam yang melekat sempurna menutupi 1/3 pahanya.

Gadis itu tak bereaksi sama sekali. Ia malah sibuk memandangi langit malam kota Seoul yang tertutupi mendung dari tempatnya duduk di atap gedung saat ini. Sesekali rambut cokelat keemasannya melambai ketika angin menerpa melewatinya. Membuat Donghae lupa mengatupkan mulutnya melihat pemandangan menakjubkan dari gadis yang dipacarinya sebulan lalu.

Donghae membenahi letak topi hitamnya lalu berdehem sebentar dan merubah ekspresinya tadi, berusaha untuk tidak menunjukkan sisi ‘polos’nya. Biar bagaimanapun ia ingin dianggap sebagai pria jantan. “apa musim favoritmu Ji~ya?” suara Donghae berusaha terdengar biasa saja. Ia sudah memegang kendali dirinya lagi, dan dia tersenyum bangga akan hal itu.

“aku tidak suka semua musim.” jawab gadis itu datar. “wae?” tanya Donghae mengerutkan kening. Bingung. “karena saat musim panas udaranya kering. Saat musim dingin udaranya terlalu dingin. Saat musim semi emm.. Aku suka musim semi tapi aku alergi serbuk bunga, itu membuatku harus memakai masker sepanjang musim. Dan aku benci itu. Dan terakhir aku benci musim gugur karena aku tidak suka warna coklat.” Donghae menganga tak percaya atas berbagai alasan tak masuk akal yang tadi keluar dari bibir mungil pacarnya.

Benci musim gugur karena tidak suka warna coklat?? Oh ayolah.. Does it make any sense?? Tapi setidaknya pria itu tau alasan dulu saat masa berteman dengan gadis itu, ia selalu memakai masker sepanjang musim semi. Donghae pikir gadis itu sedang flu. Dia tak pernah bertanya karena dulu ia sangat canggung. Walau sekarangpun masih, namun sedikit berkurang karena status mereka saat ini.

“kenapa tiba tiba bertanya seperti itu?” gadis itu menyangga dagunya dengan siku yang bertumpu di atas meja di antara mereka. Donghae hampir tersedak dengan tingkah gadisnya tersebut. Pria itu terbatuk salah tingkah lalu menegakkan posisi duduknya. “a-aniyo.. Geu-geunyang..” jawab donghae gugup. Ia menggigit bibirnya merutuki kebodohannya yang tak terkontrol.

Gadis itu tersenyum tipis melihat kegugupan Donghae yang terlihat menggemaskan. Bukannya sadar, Donghae kini malah semakin terjerumus dalam imajinasi berlebihan. Ia seakan melihat rambut Jihye yang melambai lembut diiringi senyum tipis yang terlihat jelas dari samping dalam gerakan slow motion yang membuat jantungnya berdetak kencang.

“maldo andwae.” gumam Donghae masih belum sepenuhnya sadar. Bibirnya bergerak sendiri saat dia berkata tadi. Jihye mendongak serentak, ternyata saat Donghae sibuk dengan imajinasi supernya, gadis itu mencoba mencuri tidur sejenak. Maklum saja ini sudah melewati jam tidurnya. Dan gadis pengantuk itu tidak bisa melawan keinginannya untuk memejamkan mata.

“aku juga benci hujan. Aku tidak suka basah.” Donghae hampir melayangkan protes, namun tak satu pun kata keluar. Akhirnya pria itu hanya memajukan bibirnya kesal.

Jihye berdiri merentangkan tangannya. Sedikit menikmati pergerakan udara disekitarnya. “tapi mendung juga tak buruk. Dia memberiku ketenangan. akhh.. Sebentar lagi akan hujan.” gumamnya lalu meraih ransel besar di kursi. “Ka?” tanya Donghae melihat gadis itu berlalu sambil menenteng ranselnya. “heyy kau tidak lupa bawa payungkan?!?” teriak Donghae yang tertelan udara karena Jihye tak mendengar apapun dan meneruskan langkahnya.

Donghae kembali menatap langit sepeninggal Jihye. Pikirannya mengenang kembali bagaimana ia pertama bertemu dengan gadisnya itu. Perkenalan melalui Heechul -hyung kesayangannya- yang merupakan sepupu jauh gadis itu, di sebuah Cafe langganan mereka.

Donghae yang percaya ‘love at first sight’ langsung percaya bahwa Jihye adalah ‘destiny’nya yang dipertemukan oleh takdir. Berbeda dengan Jihye yang menganggap cinta butuh waktu. Dan itu yang membuat Donghae kesal karena Jihye terkesan tarik-ulur atas perasaannya.

Terhitung satu tahun pria itu mendekati Jihye, bukan perkara mudah menaklukkan hati gadis itu. Tapi semua sepadan.

Pria itu tersenyum ketika ingatannya berhenti di saat pertama kali mereka -heechul, donghae dan gadis itu- liburan ke jeju. Betapa cerobohnya gadis itu meninggalkan villa dengan pan masih berada dikompor yang menyala. Beruntung ketika itu dompet Donghae tertinggal, jadi Donghae kembali ke villa.

Dan rencana menghabiskan hari di pantai terpaksa dibatalkan karena mereka harus membersihkan dapur villa yang terbakar. Sedikit penyesalan ia tak bisa melihat Jihye memakai bikini sexy.

“ommo!” pekiknya tanpa sadar menepuk pipinya yang memerah. Setetes air jatuh diatas hidungnya. Ia menengadahkan kepalanya seiring rintikan gerimis beruntun menjadi hujan. Dengan segera Donghae merogoh jaketnya meraih payung lipat lalu membukanya.

Donghae berjalan perlahan untuk pulang. Sepertinya ia harus pulang tanpa sepeda hitam kesayangannya. Sudut matanya menangkap seorang gadis yang berteduh dibawah terpal dipinggir sebuah gudang. Jihye. Gadis itu tengah memeluk dirinya sambil sedikit berjengkit menghindari tetesan air yang mengarah padanya.

“kenapa masih disini?” Donghae menghampiri gadis itu. Jihye mendongak kaget mendapati Donghae masih disini, sedikit bersyukur pria itu menemukannya sebelum dia basah kuyup.

“tadinya ingin pulang setelah menerbangkan lampion, tapi hujan turun terlalu cepat.” ujar Jihye yang membuat Donghae mengernyit heran dengan pikiran aneh gadis itu.

“tak bawa payung?” Jihye hanya menggeleng lemah atas pertanyaan pria itu. “yakk kau membawa lampion tapi tak membawa payung?! Memangnya apa isi tas mu itu?” pekik Donghae. “selimut, bantal dan lampion.” jawab gadis itu polos yang membuat Donghae kehabisan kata kata. Ia memijit keningnya tak percaya, gadis itu baru saja menjawab pertanyaan yang seharusnya adalah pernyataan. Donghae menarik pergelangan gadis itu agar mau pulang dengan berbagi payung bersamanya. “wae?!” tanyanya jengah saat gadis itu enggan melangkah dan menahan dirinya disana. “aku benci basah.” Donghae menghela nafas kasar. Ia menyerahkan payungnya pada gadis itu lalu melepas jaketnya dan dipakaikan pada Jihye. Setelah memastikan jaket itu menutupi tubuh dan kepala Jihye, Donghae segera berjongkok membelakangi gadis itu. Jihye yang mengerti maksudnya segera menaiki punggung lebar Donghae dengan senyum yang tak kalah lebar. Tangan kurusnya melingkar sempurna memeluk leher kekar pria itu. Dan tangan yang satunya memegang badan payung agar terlindung dari hujan yang makin deras.

Mereka akhirnya memutuskan menerjang hujan malam itu. Donghae tak mau mendengar omelan panjang lebar manajer hyung jika ia terlambat latihan. Lagipula ini sudah terlalu larut, ia takut Jihye kurang istirahat. Gedung yang super luas ini membuat mereka harus menghabiskan beberapa puluh menit mengingat jarak dari tempat mereka duduk kearah pintu keluar terlampau jauh.

“untuk apa kau membawa bantal dan selimut? Juga lampion?..”

“aku berencana pergi ke Busan lalu tidur sambil melihat bintang diatas mobil pick-up.”

“..kau mau pergi bersama? Pasti akan menyenangkan.” lanjut gadis itu mengeratkan pelukannya yang membuat Donghae tersenyum tipis. Pria itu bergumam ketika Jihye memanggil namanya. “kenapa suka hujan?”

“karena suasananya romantis.” jawab pria itu singkat yang langsung dibenarkan oleh Jihye. “tapi aku benci basah, bisakah hujan tidak mengandung air? Mungkin aku juga akan menyukainya.”

“yakk mana ada hujan yang tidak mengandung air!! Kau mau hujan batu, hujan abu, dan hujan es!”

“apa semua hujan yang kau sebutkan itu romantis?” Donghae enggan menanggapi pertanyaan bodoh gadisnya itu. Dia bergumam ‘gadis gila’ berulang kali.

~FIN~

Iklan

5 RANDOM DRABBLES

ICE CREAM SHOP

JiHye melangkah pelan turun dari bus yang membawanya. Ahh 9 tahun sudah ia terpisah dari kota kelahirannya -SEOUL- yang sedikit.. Mendung. Cuaca favoritnya.
Ia menarik nafas sejenak lalu mulai melangkah kembali.

Langkah ringannya terhenti di depan sebuah kedai, kedai ice cream tepatnya. Dengan senyum tipis terbingkai indah diwajahnya, ia melangkah masuk menyusuri setiap sudut kedai itu. Ia kembali tersenyum ketika penjaga menyapanya ramah. Wanita pemilik kedai dengan senyum yang tak pernah berubah ketika ia pertama kemari.

Semuanya masih sama. Tak ada yang berubah. Desain, tempat duduk, menu, dan.. Suasana. Menyenangkan. Seperti dulu.

Perhatiannya teralih pada dua anak kecil yang berteduh -dari hujan yang entah kapan turun- didepan kedai.

Anak laki-laki kecil itu sibuk menarik kuncir anak perempuan untuk segera pergi dari tempat itu, sedangkan si gadis bersikeras ingin mengajak anak laki-laki itu masuk untuk mendapat beberapa scoup ice cream.

Pertengkaran itu selesai karena si anak lelaki tiba tiba mencium bibir gadis kecil itu dan akhirnya karena malu, ia berlari menembus derasnya hujan. Disusul gadis kecil itu berlari di belakangnya. Sepertinya gadis kecil itu masih terlalu polos untuk mengerti arti ‘ciuman’.

“hei, kau Han Jihye?” tanya seorang pria jangkung yang tiba tiba sudah ada didepannya.

“ohh hei, Cho.. It has been a while.” jawabnya gugup.

Mereka berbincang sebentar. Suasana canggung sangat kental terasa.

“apa yang membuat mu tersenyum geli tadi?” tanya pria itu menyendok ice cream vanilla pesanannya. “hanya mengenang masa pertama kita kesini Cho.”

~kkeut~

DATE

Donghae menyandarkan kepalanya kepangkuan JiHye, ia menutup mata menikmati tiap hembusan angin menerpa lembut wajahnya. “Hae~ya kenapa kau tiba tiba ingin piknik?” tanya JiHye masih sibuk dengan game di ponselnya.

Donghae hanya bergerak perlahan, melipat kedua lengannya diatas dada menyamankan posisinya. “hanya ingin mengajakmu ke tempat yang indah. Kau kan suka bunga.” ujarnya singkat. Angin berhembus lagi, menerbangkan serbuk sari dari bunga bunga yang sedang bermekaran disekeliling mereka.

“Aneh. Tidak biasanya kita kencan seperti ini. Kau lebih suka menghabiskan waktu di apartemen melakukan ‘itu’ seharian.” gadis itu menjeda kalimatnya karena hampir saja pacman-nya tertabrak setan. “kau tidak berniat meninggalkan ku setelah ini kan? Seperti yang Geum Jandi lakukan.” Donghae mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan aneh dari Gadisnya yang aneh.
“apa yang akan terjadi jika aku melakukan itu?”

“aku akan berakhir sama seperti JunPyo.” mau tak mau donghae tersenyum tipis dengan jawaban ringan gadis itu.

“lalu apa yang kau lakukan jika aku meninggalkanmu?” donghae terlihat berpikir sejenak.

“mencari gadis yang lebih seksi darimu.”

“baguslah. Jangan menurunkan standart mu. Aku akan tersinggung jika kau mendapat gadis jelek setelah aku.” jihye melempar ponselnya kesal. “aisshh game ini menyebalkan!! Hae~ya tidakkah ini aneh? Kenapa kita membicarakan perpisahan saat kencan?”

Donghae mengangkat telunjuk dan jari tengah lalu menggerakkannya mengisyaratkan JiHye mendekat. JiHye mencondongkan tubuhnya sedikit ragu.

“aku tak akan pernah meninggalkanmu, gadis aneh.” bisik donghae lalu mendongak dan detik berikutnya bibir tipisnya sudah bergerak lembut diatas bibir jihye.

~kkeut~

YOUR XX

Tangisan merana JiHye membuat siwon menghela nafas malas, dimarahipun rasanya percuma. Dalam keadaan normal saja gadis ini tak mau dengar, bagaimana saat ini..

“kenapa dia selingkuh dibelakangku Siwon~ah? Kenapa dia tega sekali padaku?” rancunya berlebihan. Sedangkan siwon 100% mengacuhkannya.

“lalu kau mau dia selingkuh terang terangan didepanmu? aku kan sudah pernah memberitahu mu, tapi Han JiHye tak pernah mau dengar.” ujarnya malas sambil membaca New York Times dan menyesap kopi panasnya. Paginya yang indah terganggu dengan kedatangan JiHye yang berurai airmata.

“harusnya kau memaksaku mempercayaimu! Kau ini sahabatku bukan sih?!” sembur JiHye pada Siwon yang sengaja menulikan telinganya.

Gadis itu menggebrak meja dan bangkit menghapus kasar airmatanya. Siwon melirik sebentar lalu menyesap kopinya lagi.

“baiklah kau berakhir Lee Hyuk Jae!!” ujarnya mantap lalu mengeluarkan ponselnya, menelfon seseorang.

“Siwon~ah, aku pergi dulu. Donghae oppa mengajakku pergi.” JiHye mengecup singkat pipi sahabatnya itu dan berlalu pergi keluar dari apartemen Siwon.

“ck, sampai kapan kau akan selalu terjatuh pada pria brengsek Ji~ya. Donghae sama brengseknya dengan Hyuk Jae.” ujarnya pada udara kosong.

“…dan sampai kapan kau akan menyadari perasaan tulusku padamu?” gumamnya patah hati.

~kkeut~

GOMAWO, SARANGHAE

Suara decitan pintu terbuka tak membuat sesosok pria yang masih bergelung dengan selimut tebalnya terbangun. Dengan langkah pelan Jihye masuk lalu menaruh nampan berisi dua buah muffin hangat dan secangkir teh panas ke atas nakas.

Gadis itu duduk dipinggir ranjang lalu jemarinya yang panjang menyentuh tiap inchi wajah pria paling istimewa dihidupnya. Ia mencondongkan wajahnya lalu tersenyum miring.

“JUNGSOO CEPAT BANGUN!!” teriaknya tepat diwajah pria yang seketika itu tersentak kaget. Bukannya bangun, pria itu malah berbalik memunggunginya. Dengan sigap JiHye memeluk tubuh yang dililit selimut itu dari belakang.

“kalau kau tak mau bangun sekarang, aku akan menciummu hingga kau kehabisan nafas.” bisik jihye yang hanya dibalas dengusan putus asa Jungsoo. He’s totally awake.

JiHye masih memeluk JungSoo dari belakang menikmati nyamannya gulungan selimut tebal dengan JungSoo didalamnya. “something goes wrong? Leeteuk?” tanya JiHye disertai kekehan geli. JiHye tak pernah terbiasa dengan nama panggung pria itu. Sangat aneh menurutnya.

JungSoo menggeleng, untung kepalanya tak tertutup selimut jadi JiHye dapat melihatnya menggeleng. “ani. Hanya lelah.” JiHye berguling cepat melewati tubuh jungsoo lalu menghadapnya.

“wae geurae?? Apa magnae kurang ajar itu membuat ulah lagi??” tanyanya beruntun tanpa menutupi rasa khawatirnya.

“aniya, dia berlaku baik. Sangaaat baik sampai aku ngeri sendiri.” JiHye mendesah lega.

“lalu apa yang membuatmu lelah teuki oppa? Kau mau aku membantu mu?” goda JiHye menangkup wajah pria itu. “kita selingkuh saja dibelakang mereka, kau terlihat bahagia saat bersamaku.” pria itu terkekeh geli lalu beranjak turun dari ranjang. “oppa masih mencintai JiHyo, juga oppa tak mau merusak hubungan yang sudah membaik dengan magnae busuk itu.” ujarnya menunjuk lurus ke arah JiHye yang cemberut kesal. Semenit kemudian, oppa tiri gadis itu sudah lenyap di balik pintu kamar mandi.

Jihye memandang kosong pintu yang sudah tertutup itu. Dengan hati yang masih berdebar, ia mengambil ponselnya menelfon seseorang.

“kyuhyun~ah aku butuh terapi lagi.”

~kkeut~

HEART BEAT

“Pagi!!” suara baritone Yesung membuat JiHye mengerang kecil. Decitan ranjangnya, membuatnya membuka sebelah matanya. Seorang pria tampan duduk disampingnya kini tengah menatapnya clueless.

“Wae?” tanyanya dengan suara sedikit serak. Kedua mata kembali mentup sempurna. Ada jeda lama sebelum pria itu berujar.

“can you feel my heart beat?” tanyanya dengan suara rendahnya yang merdu, membuat gadis itu mengernyitkan dahinya. “jantung ku berdebar kencang, bahkan hanya dengan menatapmu. Mungkinkah aku menyukaimu?” JiHye makin bingung, ia menepuk samping ranjangnya. Mengisyaratkan pria itu untuk tidur disampingnya, dengan mata setengah terpejam ia tersenyum mendapati tunangannya itu menuruti perintahnya.

“apakah jantung mu berdebar saat aku melakukan ini?” ujarnya mengecup pipi pria itu. “bagaimana kalau ini?” gadis itu bergerak lagi mencium bibir tipis pria itu agak lama.

JiHye melepas panggutannya lalu menatap pria yang membeku itu geli. Sedangkan Yesung masih saja mengumpulkan kesadarannya yang tiba tiba menguap begitu saja, juga mengatur detak jantungnya yang kian menggila oleh senyuman memabukkan gadisnya.

“aku ingin mendengarnya lebih jelas.” katanya beringsut memeluk pinggang Yesung. Kepalanya ia tempelkan tepat didada pria itu, hingga ia dapat mendengar detakan itu lebih jelas dan terasa lebih cepat. Yesung menegang dan sempat ragu, namun akhirnya ia balas memeluk JiHye. “indah.” gumam gadis itu. Yesung menghela nafas panjang.

‘jantungku selalu berdebar tak normal jika didekatmu Ji~’ -Yesung-

~Kkeut~

*bonus [Special scene Ji-Hae]

Jihye menatap sinis laptop didepannya, seakan bisa menghancurkan benda itu lewat tatapan laser yang ia pinjam dari teman lamanya -Clark Cain-

“yak!! Kau hang out lagi dengan Amber?!” makinya pada Donghae yang sibuk dengan Ipod touchnya. Pria itu hanya melirik malas karena kedua telinganya tersumpal headset yang sedang memutar lagu kesukaannya.

Ia akhirnya mengerti tatapan membunuh gadis itu saat ia melihat layar laptopnya berisi Foto dirinya bersama amber f(x) yang ia unggah di twitter beberapa hari yang lalu. “dia hanya hoobae.” ujarnya seadanya.

“hoobae?! Sudah berapa kali kuperingatkan kau untuk tidak tebar pesona amis mu ke hoobae hoobae centil disana?!” sungut JiHye menendang kaki Donghae di ujung futcha mereka.

“jangan bilang kau cemburu padanya.”

“cih, aku tidak melakukan hal rendahan seperti itu. Yakk kau merangkulnya ?!!” Donghae hanya menggedikkan bahunya cuek. “aishh kalau begini, lebih baik kau pacaran saja dengannya.” sedetik kemudian amarah Jihye menguap tergantikan nafasnya yang tercekat karena tiba tiba Donghae menindih badannya. Ide jail terlintas di otaknya.

“kau lupa? Dia memang pacarku. Caraku merangkulnya bukankah penuh cinta? Kau tak punya hak cemburu ‘selingkuhan’ !” Donghae menekan kata terakhirnya, dengan smirk usil menghias wajah tampannya. JiHye yang tadi masih syok, kini menendang pria itu hingga jatuh meringkuk ke lantai. Tentu saja hal itu membuatnya menjerit tak terima.

Jihye melipat laptopnya lalu menyimpannya kedalam ransel. “yakk eodiga?” jerit Donghae ketika gadis itu berjalan cuek melangkahinya yang masih meringkuk memegangi lutut.

“pergi menemui Hyuk Jae.” Donghae melotot tak percaya mendengar ucapan ringan gadis itu. “Kira kira style apa yang dia pilih musim panas ini ya, umm mungkinkah kaus sleveeless sexy yang memamerkan otot lengannya.” gumam JiHye agak keras. Akhirnya gadis itu tau cara membalas Donghae. Smirk tipis keluar begitu saja melihat reaksi Donghae yang makin uring uringan.

“kalau kau menyukainya, pacaran saja dengannya!” Donghae segera mengatupkan bibirnya menyadari ia sudah terjebak permainan gadis itu. Smirk gadis itu makin panjang ketika dia berbalik menatap Donghae.

“dia memang pacarku. Berhenti cemburu ‘selingkuhan’.” ujarnya menirukan ucapan Donghae tadi. JiHye berjalan kembali, tawanya makin lebar kala Donghae mengerang makin frustasi.

“hei kajima! Lee JiHye aku akan menceraikanmu jika kau tetap pergi!” jerit donghae putus asa. “jangan mengganti margaku dengan marga Hyuk Jae, membuatku semakin ingin menemuinya.” balas JiHye cepat.

“yakk Han JiHye!! itu margaku!” donghae merutuki kecerobohannya yang terlalu gampang berkata cerai ke istrinya itu tadi. Ia segera berdiri menyambar kunci mobilnya lalu mengejar istri yang disayanginya itu sebelum dia naik bus dan kehilangan jejaknya. Minta maaf dan mendapat beberapa kecupan dibibirnya mungkin cukup untuk melewati hari ini yang akan melelahkan karena jadwal yang semakin padat. Belum lagi menghadapi sikap dingin yang akan ia terima karena dua kecerobohannya tadi.

[Special Scene Ji-Hae] ~END~